Senin, 06 Mei 2019

Analisis : Puisi 9/11 Memorial Triyanto Triwikromo dengan Pendekatan Struktural


9/11 Memorial


- Triyanto Triwikromo -


Kau tidak bersamaku
saat di pesawat seseorangmungkin hantuberbisik ragu. Apakah kau masih percaya pada Tuhan yang kadang-kadang hanya ingin dikenang sebagai masa lalu?

Kau tidak bersamaku
dan karena itu, tidak tahu, mengapa lima malaikat berseru, Jangan percakapkan cerita-cerita tabu. Nuh tidak diciptakan untuk pesawat yang terbakar. Ia hanya berguna untuk sepasang harimau buta dan bukan untukmu.

Aku tertawa
mendengarkan gurauan busuk itu. Aku menggoda penumpang di sebelah yang cemburu pada sepasang anting Yahudi di telingaku. Apakah Desember nanti kau akan menciumku di keriuhan Times Square atau keheningan Central Park? Atau apakah kau ingin bunuh diri hari ini dengan misalnya mencekik pilot dan meminta sang pecundang menabrakkan burung baja ini ke Menara Kembar?

Aku diam
Dan karena tidak bersamaku, kau tak tahu seseorangmungkin hantumemintaku tidur dalam hening anggur. Jangan berisik! Belum saatnya kau memberi tepuk tangan untuk mimpi liar atau kedukaan tanpa mawar.

Aku tak mau mendengkur untuk sebuah parodi
Aku tak mau pura-pura patuh pada sesuatu yang menusuk hati serupa sabda dari Palung Penuh Darah serupa Kitab Para Pemuja Roti. Nasib tidak ditentukan oleh Salib. Takdir hanya bergantung pada tenung langit yang selalu pagi dan hujan yang selalu malam.

Apakah namamu sudah tercatat di sebuah guci cina di surga? penumpang di sebelahku mencibir? Apakah kau sudah tahu berapa kali dalam sehari Tuhan akan mengajakmu bergurau
tentang George W Bush
jatuh dari kuda?

Ah, kau tak bersamaku, dan karena itu, kau tak mendengar pertengkaran kecil kami perihal malaikat dan Apollo 11, perihal juru masak Yesus dan buah-buahan dan satwa-satwa kecil yang terlarang untuk disantap.

Dan kau semakin tak mendengarkan pertengkaran kami saat seseorangmungkin hantumenghardik. Jangan berisik!

Setelah itu kami memang tidak berisik
Mungkin setelah dalam nada samar kudengarkan semacam lengking Bach semacam siul Mozart, tak ada yang bersuara lagi.

Aku hanya melihat asap. Aku hanya melihat api

Aku tak melihatmu. Aku tak melihat Tuhan menatapku dengan masygul sambil bertanya, Apakah kau sudah juga melihat tubuh-Ku tercabik-cabik untuk sesuatu yang sia-sia?

Saat itu, kau tahu, aku tak peduli
karena aku telah menjadi api. Semata-mata api
Semata-mata sunyi.

2013


Analisis Puisi "9/11 Memorial" Karya Triyanto Triwikromo dengan Pendekatan Struktural

A. Struktur Fisik
Penggunaan sajak dalam puisi berjudul 9/11 Memorial ini cukup kuat dimana terdapat banyak posisi kata yang tergolong dalam sajak akhir. Penggunaan sajak akhir dapat menampilkan keindahan tersendiri. Contoh sajak akhir dalam puisi ini adalah:

- "Kau tidak bersamaku
saat di pesawat seseorangmungkin hantuberbisik ragu. Apakah kau masih
percaya pada Tuhan yang kadang-kadang hanya ingin dikenang sebagai masa
lalu?"

- "Kau tidak bersamaku
dan karena itu, tidak tahu, mengapa lima malaikat berseru, Jangan percakapkan
cerita-cerita tabu. Nuh tidak diciptakan untuk pesawat yang terbakar. Ia hanya
berguna untuk sepasang harimau buta dan bukan untukmu.

Selain itu terdapat kakofoni yaitu berarti rangkaian bunyi yang tidak harmonis yang sengaja digunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek artistik atau menarik perhatian pembaca. Contoh kakofoni dalam puisi ini adalah:

"Aku tak melihatmu. Aku tak melihat Tuhan menatapku...."

"Saat itu, kau tahu, aku tak peduli
karena aku telah menjadi api...."

Penggunaan huruf t dan k yang tersebar dalam susunan baris ini menyebabkan bunyi yang dihasilkan menjadi kurang harmonis, namun hal ini memberikan efek artistik tersendiri bagi pembaca. Adapula eufoni, yaitu kombinasi bunyi yang dianggap enak didengar. Hal ini ditemukan dalam baris:

"jatuh dari kuda?"

Penggunaan kombinasi huruf vokal a dan u yang berdekatan dan berulang menjadikan baris ini enak didengar dan mudah untuk dibaca.
Citraan dalam puisi ini adalah penglihatan dimana digambarkan bahwa pembaca seolah melihat apa yang digambarkan dalam puisi. Contoh citraan penglihatan dalam puisi ini adalah:

"Aku hanya melihat asap. Aku hanya melihat api
Aku tak melihatmu. Aku tak melihat Tuhan menatapku dengan masygul sambil
bertanya, Apakah kau sudah juga melihat tubuh-Ku tercabik-cabik untuk sesuatu
yang sia-sia?"

Selain itu, terdapat pula citraan pendengaran, dimana pembaca seolah mendengarkan percakapan yang ada dalam puisi. Contoh citraan pendengaran dalam puisi ini adalah:

"....seseorang mungkin hantuberbisik ragu. Apakah kau masih percaya...."

"Aku tertawa
mendengarkan gurauan busuk itu."

Dalam puisi ini muncul pula citraan lain seperti gerak. Citraan gerak muncul dalam kalimat "Atau apakah kau ingin bunuh diri hari ini dengan misalnya mencekik pilot dan meminta sang pecundang menabrakkan burung baja ini ke Menara Kembar? yang membuat pembaca membayangkan bagaimana gerakan seorang yang sedang mencekik leher pilot.
Diksi burung baja yang muncul dalam kalimat "....menabrakkan burung baja ini ke Menara Kembar?" ini mengisyaratkan adanya majas metafora di mana burung baja yang dimaksud adalah pesawat. Diksi Kitab Pemuja Para Roti yang muncul dalam kalimat "sabda dari Palung Penuh Darah serupa Kitab Para Pemuja Roti" mengisyaratkan metafora yang menunjuk para golongan orang-orang Yahudi.

Selain itu, gaya bahasa yang terdapat dalam puisi ini adalah repetisi yaitu pengulangan kata. Contoh repetisi dalam puisi ini adalah pada kalimat "Kau tidak bersamaku" pada bait pertama dan bait kedua. Pada bait pertama, kalimat ini digunakan untuk menyampaikan keadaan yang sedang dialami oleh si 'aku', sedangkan pada bait kedua digunakan untuk semakin mempertegas maksud dari keadaan si 'aku'. Selain itu, terdapat pula retorik, yaitu gaya bahasa dalam bentuk kalimat tanya tetapi sebenarnya tidak perlu dijawab. Contoh retorik dalam puisi ini adalah:

"Apakah Desember nanti kau akan menciumku di keriuhan Times Square atau
keheningan Central Park? Atau apakah kau ingin bunuh diri hari ini dengan
misalnya mencekik pilot dan meminta sang pecundang menabrakkan burung baja
ini ke Menara Kembar?"

Wujud visual dari puisi yang terlihat dalam puisi ini adalah adanya enjambemen. Enjambemen adalah perloncatan kesatuan sintaksis yang terdapat pada baris tertentu ke dalam baris berikutnya, baik dalam bait yang sama maupun ke dalam bait berikutnya. Contoh enjambemen dalam puisi tersebut adalah:

"Kau tidak bersamaku
saat di pesawat seseorangmungkin hantuberbisik ragu. Apakah kau masih percaya pada Tuhan yang kadang-kadang hanya ingin dikenang sebagai masa lalu?"

B. Struktur Batin
Puisi 9/11 Memorial mengandung makna memorial Serangan 11 September, adalah serangkaian empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. pada 11 September 2001. Pada pagi itu, 19 pembajak dari kelompok militan Islam, al-Qaeda, membajak empat pesawat jet penumpang. Puisi ini menghadirkan tokoh 'aku' sebagai pusat dari terjadinya peristiwa WTC 9/11 yang diposisikan sebagai korban dari kejadian tersebut, namun dia seolah-olah dapat menceritakan secara detail bagaimana kronologinya, bahkan sampai ia meninggal dalam tragedi itu.

Tokoh 'aku' dapat disimpulkan sebagai salah satu penumpang dalam pesawat yang mengalami tragedi WTC 9/11, dan secara keseluruhan isi puisi menceritakan tentang apa yang dilakukan, percakapan, serta pergolakan batin dari tokoh 'aku' menjelang detik-detik peristiwa itu terjadi.
Ketegangan dalam puisi ini digambarkan melalui berbagai bentuk, mulai dari dialog tokoh 'aku', pikirannya yang disampaikan, serta perulangan kata "...jangan berisik..." yang membuat pembaca seolah terpaku diam dan turut merasakan ketegangan ketika membaca puisi 9/11 Memorial.


NDE/2019
rosainde.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar