Senin, 06 Mei 2019

Analisis : Perwatakan Tokoh dalam Novel Ayah Karya Andrea Hirata



Analisis Perwatakan Tokoh dalam Novel Ayah Karya Andrea Hirata 


1. Pembedaan Tokoh

a. Tokoh Utama : Sabari bin Insyafi

       Sabari bin Insafi merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan dalam novel Ayah karya Andrea Hirata. Sebagai tokoh utama, Sabari memiliki frekuensi kemunculan yang menonjol. Dalam novel ini terdapat 28 bab-bab pendek (2, 4, 5, 6, 7, 11, 13, 15, 19, 21, 23, 27, 41, 43, 46, 47, 49, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, dan 66) dari ke-67 bab yang ada yang tidak menghadirkan tokoh Sabari. Namun, dari ke-28 bab tersebut erat kaitannya dengan tokoh Sabari, yang antara lain berisi pembicaraan tentangnya serta hubungan sebab akibat walaupun secara tidak langsung. 


      Tokoh Sabari digambarkan sebagai tokoh protagonis. Ia mendapat kesempatan lebih banyak untuk mengungkapkan pikirannya. Dalam novel ini, Sabari sebagai tokoh utama protagonis mewakili sosok ayah. Segala apa yang dirasa, dipikir, dan dilakukan oleh Sabari menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita sebagai pembaca.
     Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, tokoh Sabari dapat diklasifikasikan sebagai tokoh statis. Sabari memiliki sikap dan watak yang relatif tetap, tidak berkembang sejak awal sampai akhir cerita. Ia adalah tokoh yang menggambarkan seorang lelaki dengan tekad yang kuat untuk mendapatkan hati Marlena. Meskipun telah ditolak hingga beberapa kali, bahkan pernah diceraikan pula oleh Marlena namun Sabari tidak pernah sedikit pun surut dalam usahanya. Kehidupannya digambarkan monoton karena tidak ada usaha untuk memperbaiki hidupnya dan cenderung pasrah terhadap keadaan yang menimpanya. 


      Sabari merupakan tokoh tipikal seorang ayah. Dalam novel ini diceritakan bagaimana perjuangan dan kesabaran Sabari untuk mendapatkan cinta Marlena. Beberapa kali Sabari terbesit pemikiran akan melupakan Marlena namun hal itu selalu gagal oleh sebab cintanya kepada Marlena sedemikian besar. Ketika pada akhirnya mereka menikah meskipun hal itu dikarenakan sebuah insiden yang terjadi kepada Narkoba, namun Sabari tetap ikhlas menerima. Sabari juga diceritakan sebagai sosok ayah yang sangat menyayangi anaknya yaitu Zorro (Amiru) meskipun bukan anak kandungnya. Sabari selalu berusaha untuk membahagiakan Zorro dengan sepenuh hatinya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:


Sabari senang meski dia sedih karena begitu miskin sehingga tak dapat membelikan Zorro makanan di dalam daftar menu itu. Dalam hati dia berjanji suatu hari nanti akan membelikan anaknya makanan-makanan itu. (Hirata, 2015:226)


     Tokoh Sabari jika dibedakan berdasarkan Forster dalam bukunya Aspect of the Novel, dapat dikategorikan sebagai tokoh sederhana. Ia hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu saja. Kecenderungan untuk tidak berpikir bagaimana cara untuk memperbaiki kehidupannya maupun pola pikirnya menunjukkan bahwa Sabari merupakan seorang lelaki yang hanya pasrah saja terhadap keadaan. 


b. Tokoh Tambahan Penting

a) Marlena binti Markoni

     Tokoh Marlena dalam novel Ayah karya Andrea Hirata menjadi tokoh utama yang tambahan, karena ia sangat memengaruhi perkembangan plot. Marlena dalam novel ini juga banyak diceritakan, banyak berhubungan dengan Sabar, dan bahkan Marlena dapat dikatakan sebagai seorang wanita yang menjadi tujuan hidup Sabar. Dari segi cerita, novel ini mengisahkan tentang perjalanan kehidupan Sabari yang menemukan sosok ayah dalam dirinya. Tokoh Marlena menjadi tokoh utama yang tambahan karena ia menjadi ibu dari tokoh Zorro/Amiru (anak tiri Sabari).


     Tokoh Marlena digambarkan sebagai tokoh antagonis. ia menjadi sebab terjadinya konflik yang dialami oleh tokoh Sabari. Tokoh Marlena menjadi tokoh penting dalam novel ini, karena ia memunculkan ketegangan sehingga cerita menjadi menarik. Diceritakan dalam novel, Marlena adalah seorang wanita yang menjadi impian Sabari. Sabari begitu mencintainya meskipun telah ditolak berkali-kali dan Marlena selalu bersikap kasar kepadanya bahkan menganggap Sabari sebagai pengganggu dalam hidupnya. 


        Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, Marlena dapat diklasifikasikan sebagai tokoh berkembang. Ia mengalami perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa dan plot yang dikisahkan dalam novel. Di awal cerita, mulanya Marlena digambarkan sebagai tokoh statis. Tidak ada perubahan yang signifikan dalam penggambaran wataknya,  namun di akhir cerita tokoh Marlena berubah menjadi seorang wanita yang lebih kalem. Selama hidupnya dia tidak pernah sedikitpun menghargai apa yang diberikan oleh Sabar, namun di akhir hayatnya ia meminta kepada Amiru untuk memakamkannya di sebelah makam Sabari dengan tulisan purnama kedua belas di batu nisannya.


       Marlena merupakan tokoh tipikal wanita yang kuat dalam cerita ini. Meskipun sejak awal ia digambarkan sebagai seorang wanita yang memiliki tabiat buruk, namun dalam beberapa bab ia diceritakan sebagai seorang wanita yang berkepribadian baik, memiliki sikap yang teguh akan pendiriannya, berpikiran maju, dan berani mengambil risiko atas keputusannya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:


"....Lena adalah perempuan besi dengan pendirian yang lebih tegak dari pada tiang bendera di Lapangan Merdeka. Bagi Lena, hidup ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan orang yang tak setia." (Hirata, 2015:264)


      Tokoh Marlena diklasifikasikan sebagai tokoh bulat. Marlena memiliki watak tertentu dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannnya, kepribadian serta jati dirinya. Sejak awal, Marlena diceritakan sebagai seorang wanita yang berperangai keras dan berkebalikan dengan tokoh Sabari. Wataknya cenderung mengarah ke hal-hal yang negatif. Namun di akhir cerita, tokoh Marlena digambarkan sebagai seorang wanita yang kuat, teguh pendirian, dan berani mengambil risiko. Bahkan ia juga mampu untuk memengaruhi jalan pikiran tokoh lain (Zuraida) untuk tidak takut dalam menghadapi kehidupannya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:


"....diam-diam Zurai merasa dikuatkan oleh surat-surat Lena. Dia ka-gum akan pendirian Lena, betapa sahabatnya itu telah ber-kelana dan tak pernah ragu untuk menjadi dirinya sendiri, seseorang yang berani berdiri tegak untuk mengatakan apa yang diinginkan dan tak diinginkannya, seseorang yang da-pat memerdekakan diri dari kebergantungan atas apa pun, termasuk atas rasa malu yang tak beralasan. Seseorang selalu tersenyum meski kesulitan mengimpit dan melangkah lagi un-tuk melihat kemungkinan baru." (Hirata, 2015:245)

b) Amiru/Zorro

       Tokoh Amiru/Zorro dalam novel ini menjadi tokoh utama yang tambahan, karena ia sangat mempengaruhi perkembangan plot. Amiru diceritakan sebagai anak dari Marlena dengan entah siapa. Keadaan seperti ini membuat Markoni, ayah Marlena memutuskan untuk menikahkan Marlena. Dengan berbagai rencana akhirnya Sabari lah yang akhirnya menikah dengan Marlena. Meskipun Sabari bukanlah ayah kandung dari Amiru, namun diceritakan betapa Sabari sangat mencintai anaknya itu. Sehingga ia berusaha melakukan adapun demi kekebahaginnya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:


"Konon, hari paling penting dalam hidup manusia adalah hari saat manusia itu tahu untuk apa dia dilahirkan. Sekarang Sabari tahu bahwa dia dilahirkan untuk menjadi seorang ayah. Seorang ayah bagi Zorro." (Hirata, 2015:227)


       Tokoh Amiru digambarkan sebagai tokoh protagonis. Dalam novel,  ia diceritakan sebagai anak yang memiliki karakter peduli kepada orang lain, rajin, cerdas, mudah menyesuaikan diri, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, pantang menyerah, ulet dan memiliki tekad yang kuat. 


       Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, Amiru dapat diklasifikasikan sebagai tokoh statis. Ia tidak mengalami perubahan watak maupun sikap yang signifikan. Amiru digambarkan sebagai seorang anak yang memiliki kepribadian yang baik sejak awal hingga akhir cerita. 


       Amiru merupakan tokoh tipikal seorang anak. Dalam novel ini diceritakan perjuangan Amiru dalam umurnya yang belum mencapai sepuluh tahun, namun sudah harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah, hidup berpindah bersama ibunya, dan merasakan berbagai hal selama hidup bersama ibunya. Namun, dengan keadaan yang seperti itu, Amiru tidak pernah mengeluh,  sebagai anak dia selalu patuh dan hormat kepada ibunya, berusaha untuk tidak membuat ibunya bersedih, dan berusaha untuk menjadi anak yang baik. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:


"...ibunya pun tahu persis berapa umurnya. Namun, minggu itu saja sudah tiga kali ibunya ber-tanya begitu. Zorro sendiri senang ditanya hal yang sama. Sesungguhnya Lena tak mengharapkan jawaban. Dia bertanya karena kagum akan Zorro yang dapat dengan tenang, tak pernah mengeluh, menghadapi situasi yang sulit. Dia merasa bersalah.
“Maafkan Ibu, Zorro, keadaan kita tak menentu begini.” Mata Lena berkaca-kaca.
“Ih, tak apa-apa, Ibunda, tak apa-apa, janganlah bersedih.” (Hirata, 2015:275)


       Tokoh Amiru dikategorikan pula sebagai tokoh sederhana. Ia hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu saja yaitu memiliki kepribadian yang baik seorang anak. Sejak awal hingga akhir cerita, Amiru digambarkan sebagai seorang anak yang mengerti dan memaklumi keadaan orangtuanya.


d) Ukun/Maulana Hasan Magribi

       Tokoh Ukun dalam novel ini menjadi tokoh tambahan yang utama, karena ia sebagai tokoh tambahan namun memengaruhi perkembangan plot. Ukun diceritakan sebagai seorang sahabat dari tokoh Sabari yang tumbuh dan besar bersama. Dalam cerita, Ukun erat kaitannya dengan tokoh Sabari. Ia dikategorikan sebagai tokoh tambahan yang penting karena di akhir cerita dikisahkan bagaimana perjuangannya dengan tokoh Tamat untuk mencari di mana keberadaan Marlena dan Amiru.



      Tokoh Ukun digambarkan sebagai tokoh protagonis. Dalam novel, ia diceritakan sebagai seorang sahabat yang tidak rela melihat sahabatnya menderita. Ia bersama Tamat berusaha untuk mencari Marlena dan Amiru ketika Sabari telah putus asa. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:


"...tolong jangan gila dulu. Biarlah kami mencari Lena dan Zorro dulu. Kalau kami ga-gal, silakan nanti kalau kau mau menjadi gila, tak ada ke-beratan dariku dan Tamat sebagai kawan-kawanmu. Untuk sementara ini, tahan dulu.” (Hirata, 2015:299)


       Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, Ukun dapat diklasifikasikan sebagai tokoh statis. Ia tidak mengalami perubahan watak maupun sikap yang signifikan. Ia digambarkan sebagai seorang sahabat yang peduli dengan Sabari sejak awal hingga akhir cerita. 


       Ukun merupakan tokoh tipikal seorang sahabat. Dalam novel ini diceritakan bagaimana prihatinnya dia dan Tamat melihat kondisi Sabari yang semakin hari semakin kacau setelah ditinggalkan Marlena dan Amiru serta bagaimana usahanya untuk menemukan kembali mereka. Sebagai seorang sahabat, dia tidak membiarkan Sabari berlarut-larut dalam kesedihan.


       Tokoh Ukun dikategorikan pula sebagai tokoh sederhana. Ia digambarkan hanya memiliki kepribadian sebagai sahabat yang baik saja. Kemunculan Ukun selalu berkaitan dengan usahanya dalam membantu Sabari mendapatkan cinta Marlena.
 

e) Tamat/Mustamat Kalimat

       Tokoh Tamat dalam novel ini menjadi tokoh tambahan yang utama, karena ia sebagai tokoh tambahan namun memengaruhi perkembangan plot. Sama halnya dengan tokoh Ukun, Tamat diceritakan sebagai seorang sahabat dari tokoh Sabari yang tumbuh dan besar bersama. Dalam cerita, Tamat erat kaitannya dengan tokoh Sabari. Ia dikategorikan sebagai tokoh tambahan yang penting karena di akhir cerita dikisahkan bagaimana perjuangannya dengan tokoh Ukun untuk mencari di mana keberadaan Marlena dan Amiru.


       Tokoh Tamat digambarkan sebagai tokoh protagonis. Dalam novel, ia diceritakan sebagai seorang sahabat yang tidak rela melihat sahabatnya menderita. Ia bersama Ukun berusaha untuk mencari Marlena dan Amiru ketika Sabari telah putus asa. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:


"...Sudah saatnya kita berbuat sesuatu yang spektakuler untuk Sabari,” kata Tamat kepada Ukun." (Hirata, 2015:286)

Kemudian cerita berlanjut dengan perjalanan mereka untuk menemukan Marlena dan Amiru.

       Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, Tamat dapat diklasifikasikan sebagai tokoh statis. Ia tidak mengalami perubahan watak maupun sikap yang signifikan. Ia digambarkan sebagai seorang sahabat yang peduli dengan Sabari sejak awal hingga akhir cerita.


       Tamat merupakan tokoh tipikal seorang sahabat. Dalam novel ini diceritakan bagaimana prihatinnya dia dan Ukun melihat kondisi Sabari yang semakin hari semakin kacau setelah ditinggalkan Marlena dan Amiru serta bagaimana usahanya untuk menemukan kembali mereka. Sebagai seorang sahabat, dia tidak membiarkan Sabari berlarut-larut dalam kesedihan.


       Tokoh Tamat dikategorikan pula sebagai tokoh sederhana. Ia digambarkan hanya memiliki kepribadian sebagai sahabat yang baik saja. Kemunculan Tamat selalu berkaitan dengan usahanya dalam membantu Sabari mendapatkan cinta Marlena. 

2. Penokohan


2. Penokohan
1) Sabari bin Insyafi
A. Secara Ekspositori
a) Ekspositori

a. Tampan budi pekerti 
Bukti: "....Jika menyerahkan jawaban secara mendadak, peserta lain bisa terintimidasi, lalu grogi, pecah konsentrasi lalu berantak-an. Betapa tampan budi pekerti anak itu." (Hirata, 2015:11)

b. Lugu
Bukti: ...Air mata lelaki kuli yang lugu itu mengalir pelan. Dia rindu kepada Marlena. (Hirata, 2015:114)

c. Mudah tersinggung dan dramatis
Bukti: “Jika Ukun salah bicara sedikit saja soal Marlena, dia tersinggung dan menjadi dramatis. (Hirata, 2015:120)

d. Keras kepala
Bukti: "Karena sikap Sabari yang keras kepala, Ukun dan Tamat jengkel. (Hirata, 2015:128)

B. Secara Dramatik
a) Teknik Cakapan

a. Sabar
Bukti: "...Aih, Kawan, apa yang kualami ini belum apa-apa. Kalian tahu? Florentino Ariza menunggu cinta Fermina Daza hampir 52 tahun! Aku, Sabari bin Insyafi mencintai Marlena binti Markoni baru sebentar saja, belumlah seberapa...." (Hirata, 2015, hlm. 191).

b. Optimis
Bukti: "Benar saja, hari itu, setelah dua tahun terus-menerus ditolak Lena, Tuhan berhenti menghitung.
"Kun! Ukun!"
Ukun menoleh. "Marlena membuat puisi untukku!" Wajah Sabari pucat. Ukun tersenyum remeh." (Hirata, 2015, hlm. 48)

b) Teknik Tingkah Laku 

a. Teguh Pendirian 
Bukti: "Sabari tak terpengaruh oleh suara-suara yang mengecilkan hati itu. Baginya itu bunyi distorsi radio, menguing-nguinglah sesuka kalian." (Hirata, 2015, hlm. 39).

b. Percaya diri 
Bukti: "Hari terakhir adalah ujian Bahasa Indonesia. Sabari ter-senyum simpul. Dijawabnya semua soal dengan tenang. Cin-cai." (Hirata, 2015:11)

c. Pandai
Bukti: "Nilai rapor semester 1 Sabari jauh lebih baik daripada nilai Ukun dan Tamat, apa-lagi Toharun." (Hirata, 2015:11)

d. Mau mengakui kesalahan 
Bukti: "Dengan lapang dada dia melakukan semacam rekonsiliasi dengan mentraktir Ukun, Tamat, dan Toharun minum kopi di warung kopi Kutunggu Jandamu." (Hirata, 2015:54)

e. Punya kemauan yang keras
Bukti: "Tak ada yang menunjuknya menjadi ketua kelas, dia me-nunjuk dirinya sendiri. Tujuannya, agar dia seolah-olah men-jadi penting. Kalau dia penting, mungkin Lena akan sedikit melirik kepadanya. Sedikit saja, cukuplah." (Hirata, 2015:77)

f. Tahu terimakasih
Bukti: Sabari mendekatkan mulutnya ke mik, dibukanya lipat­an kertas tadi lalu diucapkannya ribuan terima kasih pada peme-rintah, pemilik radio, penyiar, operator, dan para pendengar yang budiman di mana pun  berada,... (Hirata, 2015:101)

g. Hormat kepada orang tua
Bukti: Sebelum naik panggung, Sabari mencium tangan ayah-nya, satu tindakan yang kemudian mendapat tepuk tangan yang riuh lagi. (Hirata, 2015:109)
"Sabari senang mengajak ayahnya jalan-jalan. Dia senang mendorong kursi roda ayahnya keliling kampung,..." (Hirata, 2015, hlm. 63).

h. Religius
Bukti: Keesokannya, usai shalat Shubuh, Sabari langsung berlari menuju lapangan balai kota,... (Hirata, 2015:116)

i. Penyabar
Bukti: “Bogel sering mengejek puisi-puisi Sabari, sambil memain-mainkan korek gas Zippo, dipanggilnya Sabari majenun alias gila. Bogel jengkel karena Sabari tak pernah terpancing. Ditariknya kerah baju Sabari, ditantangnya berkelahi. Sabari tak melawan, hanya tersenyum, karena dia takkan merendahkan dirinya sendiri dengan menggunakan mulutnya untuk memaki dan takkan menghinakan dirinya sendiri dengan menggunakan tangannya untuk memukul." (Hirata, 2015, hlm. 80)

c). Teknik Pikiran dan Perasaan 

a. Religius
Bukti: "Namun, karena itulah dia menemukan Lena, sesuatu yang tak pernah berhenti disyukurinya." (Hirata, 2015:84)

b. Mandiri
Bukti: ....Aku harus merantau, malu aku bergantung pada orangtua. (Hirata, 2015:112)

c. Fokus pada tujuan
Bukti: “Dia hanya memikirkan rencana manisnya untuk mengikuti lomba itu, yaitu mempersembahkan piala dan hadiah-hadiahnya untuk Lena. (Hirata, 2015:118)

d. Berjiwa kebapakan
Bukti: “Ayah di dalam dirinya melonjak-lonjak, tak sabar ingin memperlihatkan diri pada dunia. (Hirata, 2015:183)
“Sabari senang meski dia sedih karena begitu miskin sehingga tak dapat membelikan Zorro makanan di dalam daftar menu itu. Dalam hati dia berjanji suatu hari nanti akan membelikan anaknya makanan-makanan itu. (Hirata, 2015:226)

d). Teknik Reaksi Tokoh Lain

a. Mau Mengakui Kesalahan
Bukti: "Ukun menyarankan agar Sabari minta maaf kepada Lena dan Bogel secara terbuka... Sabari menjadi yakin, ditambah lagi pengalaman kesukaan Toharun." (Hirata,  2015, hlm. 96)

b. Berani meminta maaf
Bukti: 
Permohonan maaf secara terbuka adalah sikap yang gentleman. Bahwa kau tak bisa bernyanyi, semua orang tahu itu....betapa tulus dan manisnya. Pasti Lena terkesan! Tamat meyakinkan.
Demi mendengar kata Lena terkesan, membawakan lagu yang biasa dibawakan Luciano Pavarotti sekalipun Sabari siap." (Hirata, 2015:84)

2) Marlena binti Markoni
A. Secara Ekspositori

a) Ekspositori

a. Tangkas
Bukti: "Tangkas sekali anak itu memindahkan semua jawaban Sabari ke kertas jawabannya sendiri...." (Hirata, 2015:12)

b. Jiwa pemberontak
Bukti: "Namun sial lagi, di balik wajah manis si bungsu itu, tersimpan jiwa pemberontak. Si bungsu telah menunjukkan tanda-tanda berandal sejak SD." (Hirata, 2015:27)

c. Keras
Bukti: "Namun, karena wataknya yang keras, si bungsu seakan menyabotase dirinya sendiri." (Hirata, 2015:28)

d. Tukang sontek
Bukti: "Soal Lena tukang sontek kelas kakap sudah menjadi ra-hasia umum di SMA." (Hirata, 2015:27)

e. Tidak suka ambil pusing
Bukti: Kepribadian Lena yang tak suka ambil pusing membu-atnya mudah saja memutuskan bercerai,... (Hirata, 2015:234)

f. Tidak mudah ditaklukkan 
Bukti: "Manikam berusaha membujuk Lena untuk tidak pergi, tetapi Lena bukanlah orang yang gampang ditaklukkan." (Hirata, 2015:243)

B. Secara Dramatik
a) Teknik Cakapan

a. Kasar
Bukti:
"....Sabari mengambil saputangan Lena yang jatuh di lapangan upacara.
“Siapa yang menyuruhmu mengambilnya?! Siapa?! Aku bisa mengambilnya sendiri!” Padahal, Sabari menyerahkannya tak kurang khidmat dari cara Paskibra Kabupaten menyerahkan bendera." (Hirata, 2015:2)

b. Acuh
Bukti: Apa peduliku!? Dia mau jadi juara maraton, mau jadi juara menulis indah, tak ada urusan denganku! (Hirata, 2015:119)

3) Amiru
A. Secara Ekspositori
a) Ekspositori

a. Rajin
Bukti: "Amiru kagum akan rasa sayang, kesabaran, dan ketelatenan ayahnya merawat ibunya. Oleh karena itu, dia, selaku anak tertua, juga selalu rajin merawat ibunya." (Hirata, 2015:14)

b. Cerdas
Bukti: "Dia adalah murid yang cerdas. Nilai IPA di rapornya tak kurang dari 8,5." (Hirata, 2015:24)

c. Mudah menyesuaikan diri 
Bukti: "....Zorro gampang menyesuaikan diri dan selalu disukai kawan-kawan dan guru-gurunya." (Hirata, 2015:272)

B. Secara Dramatik
b) Teknik Tingkah Laku

a. Tekad yang kuat 
Bukti: "Amiru belajar dengan tekun. Dia mau segera masuk SMP. Dia bertekad untuk meng-hadapi Syarif Miskin lagi." (Hirata, 2015:47)

b. Ulet
Bukti: Amiru bekerja dengan kecepatan yang membuat juragannya tercengang. (Hirata, 2015:130)

c. Ramah
Bukti: Sepanjang jalan mulut Zorro tak berhenti berkicau. Dia melambai kepada siapa saja dan apa saja. Alo, alo sapanya. (Hirata, 2015:221)

c) Pikiran dan Perasaan 

a. Peduli kepada orang lain 
Bukti: "...melalui celah dinding papan, Amiru sering mengintip ayahnya. Senang dia melihat ayahnya terse-nyum mendengar lagu-lagu yang indah. Tak ada yang lebih diinginkan Amiru selain melihat ayahnya tersenyum." (Hirata, 2015:7)

b. Rasa ingin tahu
Bukti: "Didorong perasaan ingin tahu, dan minat belajar yang selalu tinggi, jauh-jauh dia bersepeda ke perpustakaan daerah untuk membaca buku-buku soal radio." (Hirata, 2015:45)

c. Pantang menyerah
Bukti: “Amiru tak mau menyerah demi ayah dan ibunya. (Hirata, 2015:129)

4) Ukun/Maulana Hasan Magribi
A. Secara Dramatik
a) Teknik Tingkah Laku 

a. Jahil
Bukti: "Karena tahu Sabari anti cinta, pernah Ukun menggo-danya dengan memasang-masangkannya dengan Shasya. Sabari muntab tak keruan. Tiga hari Ukun didiamkannya. Sabari yang penyabar, tak pernah begitu sebelumnya." (Hirata, 2015:11)

b. Perhatian 
Bukti:
"Sabari tersenyum pahit. Ukun menjadi iba.
Usahlah kau risaukan, Boi, bujuknya." (Hirata, 2015:68)

c. Hormat kepada orang tua 
Bukti: "...Ukun mencium tangan Bu Norma dengan takzim." (Hirata, 2015:297)

5) Muktamar Kalimat/Tamat
A. Secara Dramatik
a) Teknik Cakapan

a. Suka membolos 
Bukti: Kau, Mat! Susah payah ayahmu menghidupi tiga istri, kau sangka gampang?! Seenaknya saja kau bolos. Durhaka! Tamat menyesal." (Hirata, 2015:70)

b. Setiakawan 
Bukti: "...Sudah saatnya kita berbuat sesuatu yang spektakuler untuk Sabari,” kata Tamat kepada Ukun." (Hirata, 2015:286)

c) Teknik Pikiran dan Perasaan 

a. Setiakawan 
Bukti: "Ukun, Tamat, dan Toharun bermuram durja. Pedih mereka membayangkan tak ada Sabari di sekolah. Mereka merasa timpang. Tanpa Sabari mereka merasa tak lengkap." (Hirata, 2015:70)

b. Cerdas
Bukti: "Komunikasi dianggap penting oleh Tamat sebab nanti mere-ka akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai daerah. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa Indonesia Ukun harus ditingkatkan." (Hirata, 2015:295



Daftar Pustaka

Hirata, Andrea. 2015. Ayah. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.


NDE/2019

Analisis : Puisi 9/11 Memorial Triyanto Triwikromo dengan Pendekatan Struktural


9/11 Memorial


- Triyanto Triwikromo -


Kau tidak bersamaku
saat di pesawat seseorangmungkin hantuberbisik ragu. Apakah kau masih percaya pada Tuhan yang kadang-kadang hanya ingin dikenang sebagai masa lalu?

Kau tidak bersamaku
dan karena itu, tidak tahu, mengapa lima malaikat berseru, Jangan percakapkan cerita-cerita tabu. Nuh tidak diciptakan untuk pesawat yang terbakar. Ia hanya berguna untuk sepasang harimau buta dan bukan untukmu.

Aku tertawa
mendengarkan gurauan busuk itu. Aku menggoda penumpang di sebelah yang cemburu pada sepasang anting Yahudi di telingaku. Apakah Desember nanti kau akan menciumku di keriuhan Times Square atau keheningan Central Park? Atau apakah kau ingin bunuh diri hari ini dengan misalnya mencekik pilot dan meminta sang pecundang menabrakkan burung baja ini ke Menara Kembar?

Aku diam
Dan karena tidak bersamaku, kau tak tahu seseorangmungkin hantumemintaku tidur dalam hening anggur. Jangan berisik! Belum saatnya kau memberi tepuk tangan untuk mimpi liar atau kedukaan tanpa mawar.

Aku tak mau mendengkur untuk sebuah parodi
Aku tak mau pura-pura patuh pada sesuatu yang menusuk hati serupa sabda dari Palung Penuh Darah serupa Kitab Para Pemuja Roti. Nasib tidak ditentukan oleh Salib. Takdir hanya bergantung pada tenung langit yang selalu pagi dan hujan yang selalu malam.

Apakah namamu sudah tercatat di sebuah guci cina di surga? penumpang di sebelahku mencibir? Apakah kau sudah tahu berapa kali dalam sehari Tuhan akan mengajakmu bergurau
tentang George W Bush
jatuh dari kuda?

Ah, kau tak bersamaku, dan karena itu, kau tak mendengar pertengkaran kecil kami perihal malaikat dan Apollo 11, perihal juru masak Yesus dan buah-buahan dan satwa-satwa kecil yang terlarang untuk disantap.

Dan kau semakin tak mendengarkan pertengkaran kami saat seseorangmungkin hantumenghardik. Jangan berisik!

Setelah itu kami memang tidak berisik
Mungkin setelah dalam nada samar kudengarkan semacam lengking Bach semacam siul Mozart, tak ada yang bersuara lagi.

Aku hanya melihat asap. Aku hanya melihat api

Aku tak melihatmu. Aku tak melihat Tuhan menatapku dengan masygul sambil bertanya, Apakah kau sudah juga melihat tubuh-Ku tercabik-cabik untuk sesuatu yang sia-sia?

Saat itu, kau tahu, aku tak peduli
karena aku telah menjadi api. Semata-mata api
Semata-mata sunyi.

2013


Analisis Puisi "9/11 Memorial" Karya Triyanto Triwikromo dengan Pendekatan Struktural

A. Struktur Fisik
Penggunaan sajak dalam puisi berjudul 9/11 Memorial ini cukup kuat dimana terdapat banyak posisi kata yang tergolong dalam sajak akhir. Penggunaan sajak akhir dapat menampilkan keindahan tersendiri. Contoh sajak akhir dalam puisi ini adalah:

- "Kau tidak bersamaku
saat di pesawat seseorangmungkin hantuberbisik ragu. Apakah kau masih
percaya pada Tuhan yang kadang-kadang hanya ingin dikenang sebagai masa
lalu?"

- "Kau tidak bersamaku
dan karena itu, tidak tahu, mengapa lima malaikat berseru, Jangan percakapkan
cerita-cerita tabu. Nuh tidak diciptakan untuk pesawat yang terbakar. Ia hanya
berguna untuk sepasang harimau buta dan bukan untukmu.

Selain itu terdapat kakofoni yaitu berarti rangkaian bunyi yang tidak harmonis yang sengaja digunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek artistik atau menarik perhatian pembaca. Contoh kakofoni dalam puisi ini adalah:

"Aku tak melihatmu. Aku tak melihat Tuhan menatapku...."

"Saat itu, kau tahu, aku tak peduli
karena aku telah menjadi api...."

Penggunaan huruf t dan k yang tersebar dalam susunan baris ini menyebabkan bunyi yang dihasilkan menjadi kurang harmonis, namun hal ini memberikan efek artistik tersendiri bagi pembaca. Adapula eufoni, yaitu kombinasi bunyi yang dianggap enak didengar. Hal ini ditemukan dalam baris:

"jatuh dari kuda?"

Penggunaan kombinasi huruf vokal a dan u yang berdekatan dan berulang menjadikan baris ini enak didengar dan mudah untuk dibaca.
Citraan dalam puisi ini adalah penglihatan dimana digambarkan bahwa pembaca seolah melihat apa yang digambarkan dalam puisi. Contoh citraan penglihatan dalam puisi ini adalah:

"Aku hanya melihat asap. Aku hanya melihat api
Aku tak melihatmu. Aku tak melihat Tuhan menatapku dengan masygul sambil
bertanya, Apakah kau sudah juga melihat tubuh-Ku tercabik-cabik untuk sesuatu
yang sia-sia?"

Selain itu, terdapat pula citraan pendengaran, dimana pembaca seolah mendengarkan percakapan yang ada dalam puisi. Contoh citraan pendengaran dalam puisi ini adalah:

"....seseorang mungkin hantuberbisik ragu. Apakah kau masih percaya...."

"Aku tertawa
mendengarkan gurauan busuk itu."

Dalam puisi ini muncul pula citraan lain seperti gerak. Citraan gerak muncul dalam kalimat "Atau apakah kau ingin bunuh diri hari ini dengan misalnya mencekik pilot dan meminta sang pecundang menabrakkan burung baja ini ke Menara Kembar? yang membuat pembaca membayangkan bagaimana gerakan seorang yang sedang mencekik leher pilot.
Diksi burung baja yang muncul dalam kalimat "....menabrakkan burung baja ini ke Menara Kembar?" ini mengisyaratkan adanya majas metafora di mana burung baja yang dimaksud adalah pesawat. Diksi Kitab Pemuja Para Roti yang muncul dalam kalimat "sabda dari Palung Penuh Darah serupa Kitab Para Pemuja Roti" mengisyaratkan metafora yang menunjuk para golongan orang-orang Yahudi.

Selain itu, gaya bahasa yang terdapat dalam puisi ini adalah repetisi yaitu pengulangan kata. Contoh repetisi dalam puisi ini adalah pada kalimat "Kau tidak bersamaku" pada bait pertama dan bait kedua. Pada bait pertama, kalimat ini digunakan untuk menyampaikan keadaan yang sedang dialami oleh si 'aku', sedangkan pada bait kedua digunakan untuk semakin mempertegas maksud dari keadaan si 'aku'. Selain itu, terdapat pula retorik, yaitu gaya bahasa dalam bentuk kalimat tanya tetapi sebenarnya tidak perlu dijawab. Contoh retorik dalam puisi ini adalah:

"Apakah Desember nanti kau akan menciumku di keriuhan Times Square atau
keheningan Central Park? Atau apakah kau ingin bunuh diri hari ini dengan
misalnya mencekik pilot dan meminta sang pecundang menabrakkan burung baja
ini ke Menara Kembar?"

Wujud visual dari puisi yang terlihat dalam puisi ini adalah adanya enjambemen. Enjambemen adalah perloncatan kesatuan sintaksis yang terdapat pada baris tertentu ke dalam baris berikutnya, baik dalam bait yang sama maupun ke dalam bait berikutnya. Contoh enjambemen dalam puisi tersebut adalah:

"Kau tidak bersamaku
saat di pesawat seseorangmungkin hantuberbisik ragu. Apakah kau masih percaya pada Tuhan yang kadang-kadang hanya ingin dikenang sebagai masa lalu?"

B. Struktur Batin
Puisi 9/11 Memorial mengandung makna memorial Serangan 11 September, adalah serangkaian empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. pada 11 September 2001. Pada pagi itu, 19 pembajak dari kelompok militan Islam, al-Qaeda, membajak empat pesawat jet penumpang. Puisi ini menghadirkan tokoh 'aku' sebagai pusat dari terjadinya peristiwa WTC 9/11 yang diposisikan sebagai korban dari kejadian tersebut, namun dia seolah-olah dapat menceritakan secara detail bagaimana kronologinya, bahkan sampai ia meninggal dalam tragedi itu.

Tokoh 'aku' dapat disimpulkan sebagai salah satu penumpang dalam pesawat yang mengalami tragedi WTC 9/11, dan secara keseluruhan isi puisi menceritakan tentang apa yang dilakukan, percakapan, serta pergolakan batin dari tokoh 'aku' menjelang detik-detik peristiwa itu terjadi.
Ketegangan dalam puisi ini digambarkan melalui berbagai bentuk, mulai dari dialog tokoh 'aku', pikirannya yang disampaikan, serta perulangan kata "...jangan berisik..." yang membuat pembaca seolah terpaku diam dan turut merasakan ketegangan ketika membaca puisi 9/11 Memorial.


NDE/2019
rosainde.blogspot.com

Kamis, 11 April 2019

Opini : Perubahan dan Kenyamanan


Perubahan dan Kenyamanan



Berbicara tentang perubahan dan kenyamanan.


Sebagian besar perubahan itu sebenarnya berasal dari diri kita sendiri, hanya saja banyak yang merasa acuh dan merasa perubahan itu tidak diterima oleh orang lain. Tumbuh dan berkembang dalam lingkungan hidup yang seperti itu bukan saja menyebalkan, namun juga perlahan jiwa-jiwa yang telah tumbuh di dalamnya bibit perubahan ke arah yang lebih baik itu akan padam.



​Kenyamanan itu bukan dicari, tapi seharusnya diciptakan. Ketika kita memilih tinggal, maka bukan lagi melulu tentang diri kita sendiri. Di sana, rasa nyaman  dan kerasan kemudian berhubungan pula dengan apa-apa yang hidup di dalamnya.



​Kedua hal tersebut -- kenyamanan dan perubahan -- saling berkaitan erat. Orang-orang hebat yang sudah merasa jenuh dengan keadaan pada tempat di mana dia memilih tinggal, akan memikirkan bagaimana seharusnya, kemudian merealisasikannya. Namun, orang-orang yang belum siap, biasanya akan menolak bahkan berusaha mematikan perubahan itu. Maka, bagaimana rasa nyaman akan tercipta di sana jika dalam sesamanya saja ada usaha untuk saling menjatuhkan, diam-diam saling menghujat bukannya bersama memikirkan apa yang harus dilakukan, seolah membatasi diri dan meraup sebanyak-banyaknya pembenaran dari orang lain, hidup bersama tapi berusaha saling membunuh.



Kita tentu akan terkejut ketika ada orang hebat yang memilih berhenti berproses dan meninggalkan tempat di mana dia tinggal. 

Terkesan tidak bertanggung jawab?

Mungkin saja dia ingin hidup bersama kita, namun tanpa sadar kita mematikannya perlahan. Dalam kondisi sekarat dia disadarkan bahwa masih ada harapan untuk hidup, makanya dia memilih pergi. 



Pada kondisi seperti itu, apakah tidak cukup membuat kita tertampar keras, tidakkah kemudian kita berpikir, meresapinya, memperbaikinya.