Analisis Perwatakan Tokoh dalam Novel Ayah Karya Andrea Hirata
1. Pembedaan Tokoh
a. Tokoh Utama : Sabari bin Insyafi
Sabari bin Insafi merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan dalam novel Ayah karya Andrea Hirata. Sebagai tokoh utama, Sabari memiliki frekuensi kemunculan yang menonjol. Dalam novel ini terdapat 28 bab-bab pendek (2, 4, 5, 6, 7, 11, 13, 15, 19, 21, 23, 27, 41, 43, 46, 47, 49, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, dan 66) dari ke-67 bab yang ada yang tidak menghadirkan tokoh Sabari. Namun, dari ke-28 bab tersebut erat kaitannya dengan tokoh Sabari, yang antara lain berisi pembicaraan tentangnya serta hubungan sebab akibat walaupun secara tidak langsung.
Tokoh Sabari digambarkan sebagai tokoh protagonis. Ia mendapat kesempatan lebih banyak untuk mengungkapkan pikirannya. Dalam novel ini, Sabari sebagai tokoh utama protagonis mewakili sosok ayah. Segala apa yang dirasa, dipikir, dan dilakukan oleh Sabari menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita sebagai pembaca.
Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, tokoh Sabari dapat diklasifikasikan sebagai tokoh statis. Sabari memiliki sikap dan watak yang relatif tetap, tidak berkembang sejak awal sampai akhir cerita. Ia adalah tokoh yang menggambarkan seorang lelaki dengan tekad yang kuat untuk mendapatkan hati Marlena. Meskipun telah ditolak hingga beberapa kali, bahkan pernah diceraikan pula oleh Marlena namun Sabari tidak pernah sedikit pun surut dalam usahanya. Kehidupannya digambarkan monoton karena tidak ada usaha untuk memperbaiki hidupnya dan cenderung pasrah terhadap keadaan yang menimpanya.
Sabari merupakan tokoh tipikal seorang ayah. Dalam novel ini diceritakan bagaimana perjuangan dan kesabaran Sabari untuk mendapatkan cinta Marlena. Beberapa kali Sabari terbesit pemikiran akan melupakan Marlena namun hal itu selalu gagal oleh sebab cintanya kepada Marlena sedemikian besar. Ketika pada akhirnya mereka menikah meskipun hal itu dikarenakan sebuah insiden yang terjadi kepada Narkoba, namun Sabari tetap ikhlas menerima. Sabari juga diceritakan sebagai sosok ayah yang sangat menyayangi anaknya yaitu Zorro (Amiru) meskipun bukan anak kandungnya. Sabari selalu berusaha untuk membahagiakan Zorro dengan sepenuh hatinya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
Sabari senang meski dia sedih karena begitu miskin sehingga tak dapat membelikan Zorro makanan di dalam daftar menu itu. Dalam hati dia berjanji suatu hari nanti akan membelikan anaknya makanan-makanan itu. (Hirata, 2015:226)
Tokoh Sabari jika dibedakan berdasarkan Forster dalam bukunya Aspect of the Novel, dapat dikategorikan sebagai tokoh sederhana. Ia hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu saja. Kecenderungan untuk tidak berpikir bagaimana cara untuk memperbaiki kehidupannya maupun pola pikirnya menunjukkan bahwa Sabari merupakan seorang lelaki yang hanya pasrah saja terhadap keadaan.
b. Tokoh Tambahan Penting
a) Marlena binti Markoni
Tokoh Marlena dalam novel Ayah karya Andrea Hirata menjadi tokoh utama yang tambahan, karena ia sangat memengaruhi perkembangan plot. Marlena dalam novel ini juga banyak diceritakan, banyak berhubungan dengan Sabar, dan bahkan Marlena dapat dikatakan sebagai seorang wanita yang menjadi tujuan hidup Sabar. Dari segi cerita, novel ini mengisahkan tentang perjalanan kehidupan Sabari yang menemukan sosok ayah dalam dirinya. Tokoh Marlena menjadi tokoh utama yang tambahan karena ia menjadi ibu dari tokoh Zorro/Amiru (anak tiri Sabari).
Tokoh Marlena digambarkan sebagai tokoh antagonis. ia menjadi sebab terjadinya konflik yang dialami oleh tokoh Sabari. Tokoh Marlena menjadi tokoh penting dalam novel ini, karena ia memunculkan ketegangan sehingga cerita menjadi menarik. Diceritakan dalam novel, Marlena adalah seorang wanita yang menjadi impian Sabari. Sabari begitu mencintainya meskipun telah ditolak berkali-kali dan Marlena selalu bersikap kasar kepadanya bahkan menganggap Sabari sebagai pengganggu dalam hidupnya.
Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, Marlena dapat diklasifikasikan sebagai tokoh berkembang. Ia mengalami perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa dan plot yang dikisahkan dalam novel. Di awal cerita, mulanya Marlena digambarkan sebagai tokoh statis. Tidak ada perubahan yang signifikan dalam penggambaran wataknya, namun di akhir cerita tokoh Marlena berubah menjadi seorang wanita yang lebih kalem. Selama hidupnya dia tidak pernah sedikitpun menghargai apa yang diberikan oleh Sabar, namun di akhir hayatnya ia meminta kepada Amiru untuk memakamkannya di sebelah makam Sabari dengan tulisan purnama kedua belas di batu nisannya.
Marlena merupakan tokoh tipikal wanita yang kuat dalam cerita ini. Meskipun sejak awal ia digambarkan sebagai seorang wanita yang memiliki tabiat buruk, namun dalam beberapa bab ia diceritakan sebagai seorang wanita yang berkepribadian baik, memiliki sikap yang teguh akan pendiriannya, berpikiran maju, dan berani mengambil risiko atas keputusannya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
"....Lena adalah perempuan besi dengan pendirian yang lebih tegak dari pada tiang bendera di Lapangan Merdeka. Bagi Lena, hidup ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan orang yang tak setia." (Hirata, 2015:264)
Tokoh Marlena diklasifikasikan sebagai tokoh bulat. Marlena memiliki watak tertentu dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannnya, kepribadian serta jati dirinya. Sejak awal, Marlena diceritakan sebagai seorang wanita yang berperangai keras dan berkebalikan dengan tokoh Sabari. Wataknya cenderung mengarah ke hal-hal yang negatif. Namun di akhir cerita, tokoh Marlena digambarkan sebagai seorang wanita yang kuat, teguh pendirian, dan berani mengambil risiko. Bahkan ia juga mampu untuk memengaruhi jalan pikiran tokoh lain (Zuraida) untuk tidak takut dalam menghadapi kehidupannya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
"....diam-diam Zurai merasa dikuatkan oleh surat-surat Lena. Dia ka-gum akan pendirian Lena, betapa sahabatnya itu telah ber-kelana dan tak pernah ragu untuk menjadi dirinya sendiri, seseorang yang berani berdiri tegak untuk mengatakan apa yang diinginkan dan tak diinginkannya, seseorang yang da-pat memerdekakan diri dari kebergantungan atas apa pun, termasuk atas rasa malu yang tak beralasan. Seseorang selalu tersenyum meski kesulitan mengimpit dan melangkah lagi un-tuk melihat kemungkinan baru." (Hirata, 2015:245)
b) Amiru/Zorro
Tokoh Amiru/Zorro dalam novel ini menjadi tokoh utama yang tambahan, karena ia sangat mempengaruhi perkembangan plot. Amiru diceritakan sebagai anak dari Marlena dengan entah siapa. Keadaan seperti ini membuat Markoni, ayah Marlena memutuskan untuk menikahkan Marlena. Dengan berbagai rencana akhirnya Sabari lah yang akhirnya menikah dengan Marlena. Meskipun Sabari bukanlah ayah kandung dari Amiru, namun diceritakan betapa Sabari sangat mencintai anaknya itu. Sehingga ia berusaha melakukan adapun demi kekebahaginnya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
"Konon, hari paling penting dalam hidup manusia adalah hari saat manusia itu tahu untuk apa dia dilahirkan. Sekarang Sabari tahu bahwa dia dilahirkan untuk menjadi seorang ayah. Seorang ayah bagi Zorro." (Hirata, 2015:227)
Tokoh Amiru digambarkan sebagai tokoh protagonis. Dalam novel, ia diceritakan sebagai anak yang memiliki karakter peduli kepada orang lain, rajin, cerdas, mudah menyesuaikan diri, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, pantang menyerah, ulet dan memiliki tekad yang kuat.
Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, Amiru dapat diklasifikasikan sebagai tokoh statis. Ia tidak mengalami perubahan watak maupun sikap yang signifikan. Amiru digambarkan sebagai seorang anak yang memiliki kepribadian yang baik sejak awal hingga akhir cerita.
Amiru merupakan tokoh tipikal seorang anak. Dalam novel ini diceritakan perjuangan Amiru dalam umurnya yang belum mencapai sepuluh tahun, namun sudah harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah, hidup berpindah bersama ibunya, dan merasakan berbagai hal selama hidup bersama ibunya. Namun, dengan keadaan yang seperti itu, Amiru tidak pernah mengeluh, sebagai anak dia selalu patuh dan hormat kepada ibunya, berusaha untuk tidak membuat ibunya bersedih, dan berusaha untuk menjadi anak yang baik. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
"...ibunya pun tahu persis berapa umurnya. Namun, minggu itu saja sudah tiga kali ibunya ber-tanya begitu. Zorro sendiri senang ditanya hal yang sama. Sesungguhnya Lena tak mengharapkan jawaban. Dia bertanya karena kagum akan Zorro yang dapat dengan tenang, tak pernah mengeluh, menghadapi situasi yang sulit. Dia merasa bersalah.
“Maafkan Ibu, Zorro, keadaan kita tak menentu begini.” Mata Lena berkaca-kaca.
“Ih, tak apa-apa, Ibunda, tak apa-apa, janganlah bersedih.” (Hirata, 2015:275)
Tokoh Amiru dikategorikan pula sebagai tokoh sederhana. Ia hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu saja yaitu memiliki kepribadian yang baik seorang anak. Sejak awal hingga akhir cerita, Amiru digambarkan sebagai seorang anak yang mengerti dan memaklumi keadaan orangtuanya.
d) Ukun/Maulana Hasan Magribi
Tokoh Ukun dalam novel ini menjadi tokoh tambahan yang utama, karena ia sebagai tokoh tambahan namun memengaruhi perkembangan plot. Ukun diceritakan sebagai seorang sahabat dari tokoh Sabari yang tumbuh dan besar bersama. Dalam cerita, Ukun erat kaitannya dengan tokoh Sabari. Ia dikategorikan sebagai tokoh tambahan yang penting karena di akhir cerita dikisahkan bagaimana perjuangannya dengan tokoh Tamat untuk mencari di mana keberadaan Marlena dan Amiru.
Tokoh Ukun digambarkan sebagai tokoh protagonis. Dalam novel, ia diceritakan sebagai seorang sahabat yang tidak rela melihat sahabatnya menderita. Ia bersama Tamat berusaha untuk mencari Marlena dan Amiru ketika Sabari telah putus asa. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
"...tolong jangan gila dulu. Biarlah kami mencari Lena dan Zorro dulu. Kalau kami ga-gal, silakan nanti kalau kau mau menjadi gila, tak ada ke-beratan dariku dan Tamat sebagai kawan-kawanmu. Untuk sementara ini, tahan dulu.” (Hirata, 2015:299)
Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, Ukun dapat diklasifikasikan sebagai tokoh statis. Ia tidak mengalami perubahan watak maupun sikap yang signifikan. Ia digambarkan sebagai seorang sahabat yang peduli dengan Sabari sejak awal hingga akhir cerita.
Ukun merupakan tokoh tipikal seorang sahabat. Dalam novel ini diceritakan bagaimana prihatinnya dia dan Tamat melihat kondisi Sabari yang semakin hari semakin kacau setelah ditinggalkan Marlena dan Amiru serta bagaimana usahanya untuk menemukan kembali mereka. Sebagai seorang sahabat, dia tidak membiarkan Sabari berlarut-larut dalam kesedihan.
Tokoh Ukun dikategorikan pula sebagai tokoh sederhana. Ia digambarkan hanya memiliki kepribadian sebagai sahabat yang baik saja. Kemunculan Ukun selalu berkaitan dengan usahanya dalam membantu Sabari mendapatkan cinta Marlena.
e) Tamat/Mustamat Kalimat
Tokoh Tamat dalam novel ini menjadi tokoh tambahan yang utama, karena ia sebagai tokoh tambahan namun memengaruhi perkembangan plot. Sama halnya dengan tokoh Ukun, Tamat diceritakan sebagai seorang sahabat dari tokoh Sabari yang tumbuh dan besar bersama. Dalam cerita, Tamat erat kaitannya dengan tokoh Sabari. Ia dikategorikan sebagai tokoh tambahan yang penting karena di akhir cerita dikisahkan bagaimana perjuangannya dengan tokoh Ukun untuk mencari di mana keberadaan Marlena dan Amiru.
Tokoh Tamat digambarkan sebagai tokoh protagonis. Dalam novel, ia diceritakan sebagai seorang sahabat yang tidak rela melihat sahabatnya menderita. Ia bersama Ukun berusaha untuk mencari Marlena dan Amiru ketika Sabari telah putus asa. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
"...Sudah saatnya kita berbuat sesuatu yang spektakuler untuk Sabari,” kata Tamat kepada Ukun." (Hirata, 2015:286)
Kemudian cerita berlanjut dengan perjalanan mereka untuk menemukan Marlena dan Amiru.
Jika dilihat dari perkembangannya dalam cerita, Tamat dapat diklasifikasikan sebagai tokoh statis. Ia tidak mengalami perubahan watak maupun sikap yang signifikan. Ia digambarkan sebagai seorang sahabat yang peduli dengan Sabari sejak awal hingga akhir cerita.
Tamat merupakan tokoh tipikal seorang sahabat. Dalam novel ini diceritakan bagaimana prihatinnya dia dan Ukun melihat kondisi Sabari yang semakin hari semakin kacau setelah ditinggalkan Marlena dan Amiru serta bagaimana usahanya untuk menemukan kembali mereka. Sebagai seorang sahabat, dia tidak membiarkan Sabari berlarut-larut dalam kesedihan.
Tokoh Tamat dikategorikan pula sebagai tokoh sederhana. Ia digambarkan hanya memiliki kepribadian sebagai sahabat yang baik saja. Kemunculan Tamat selalu berkaitan dengan usahanya dalam membantu Sabari mendapatkan cinta Marlena.
2. Penokohan
2. Penokohan
1) Sabari bin Insyafi
A. Secara Ekspositori
a) Ekspositori
a. Tampan budi pekerti
Bukti: "....Jika menyerahkan jawaban secara mendadak, peserta lain bisa terintimidasi, lalu grogi, pecah konsentrasi lalu berantak-an. Betapa tampan budi pekerti anak itu." (Hirata, 2015:11)
b. Lugu
Bukti: ...Air mata lelaki kuli yang lugu itu mengalir pelan. Dia rindu kepada Marlena. (Hirata, 2015:114)
c. Mudah tersinggung dan dramatis
Bukti: “Jika Ukun salah bicara sedikit saja soal Marlena, dia tersinggung dan menjadi dramatis. (Hirata, 2015:120)
d. Keras kepala
Bukti: "Karena sikap Sabari yang keras kepala, Ukun dan Tamat jengkel. (Hirata, 2015:128)
B. Secara Dramatik
a) Teknik Cakapan
a. Sabar
Bukti: "...Aih, Kawan, apa yang kualami ini belum apa-apa. Kalian tahu? Florentino Ariza menunggu cinta Fermina Daza hampir 52 tahun! Aku, Sabari bin Insyafi mencintai Marlena binti Markoni baru sebentar saja, belumlah seberapa...." (Hirata, 2015, hlm. 191).
b. Optimis
Bukti: "Benar saja, hari itu, setelah dua tahun terus-menerus ditolak Lena, Tuhan berhenti menghitung.
"Kun! Ukun!"
Ukun menoleh. "Marlena membuat puisi untukku!" Wajah Sabari pucat. Ukun tersenyum remeh." (Hirata, 2015, hlm. 48)
b) Teknik Tingkah Laku
a. Teguh Pendirian
Bukti: "Sabari tak terpengaruh oleh suara-suara yang mengecilkan hati itu. Baginya itu bunyi distorsi radio, menguing-nguinglah sesuka kalian." (Hirata, 2015, hlm. 39).
b. Percaya diri
Bukti: "Hari terakhir adalah ujian Bahasa Indonesia. Sabari ter-senyum simpul. Dijawabnya semua soal dengan tenang. Cin-cai." (Hirata, 2015:11)
c. Pandai
Bukti: "Nilai rapor semester 1 Sabari jauh lebih baik daripada nilai Ukun dan Tamat, apa-lagi Toharun." (Hirata, 2015:11)
d. Mau mengakui kesalahan
Bukti: "Dengan lapang dada dia melakukan semacam rekonsiliasi dengan mentraktir Ukun, Tamat, dan Toharun minum kopi di warung kopi Kutunggu Jandamu." (Hirata, 2015:54)
e. Punya kemauan yang keras
Bukti: "Tak ada yang menunjuknya menjadi ketua kelas, dia me-nunjuk dirinya sendiri. Tujuannya, agar dia seolah-olah men-jadi penting. Kalau dia penting, mungkin Lena akan sedikit melirik kepadanya. Sedikit saja, cukuplah." (Hirata, 2015:77)
f. Tahu terimakasih
Bukti: Sabari mendekatkan mulutnya ke mik, dibukanya lipatan kertas tadi lalu diucapkannya ribuan terima kasih pada peme-rintah, pemilik radio, penyiar, operator, dan para pendengar yang budiman di mana pun berada,... (Hirata, 2015:101)
g. Hormat kepada orang tua
Bukti: Sebelum naik panggung, Sabari mencium tangan ayah-nya, satu tindakan yang kemudian mendapat tepuk tangan yang riuh lagi. (Hirata, 2015:109)
"Sabari senang mengajak ayahnya jalan-jalan. Dia senang mendorong kursi roda ayahnya keliling kampung,..." (Hirata, 2015, hlm. 63).
h. Religius
Bukti: Keesokannya, usai shalat Shubuh, Sabari langsung berlari menuju lapangan balai kota,... (Hirata, 2015:116)
i. Penyabar
Bukti: “Bogel sering mengejek puisi-puisi Sabari, sambil memain-mainkan korek gas Zippo, dipanggilnya Sabari majenun alias gila. Bogel jengkel karena Sabari tak pernah terpancing. Ditariknya kerah baju Sabari, ditantangnya berkelahi. Sabari tak melawan, hanya tersenyum, karena dia takkan merendahkan dirinya sendiri dengan menggunakan mulutnya untuk memaki dan takkan menghinakan dirinya sendiri dengan menggunakan tangannya untuk memukul." (Hirata, 2015, hlm. 80)
c). Teknik Pikiran dan Perasaan
a. Religius
Bukti: "Namun, karena itulah dia menemukan Lena, sesuatu yang tak pernah berhenti disyukurinya." (Hirata, 2015:84)
b. Mandiri
Bukti: ....Aku harus merantau, malu aku bergantung pada orangtua. (Hirata, 2015:112)
c. Fokus pada tujuan
Bukti: “Dia hanya memikirkan rencana manisnya untuk mengikuti lomba itu, yaitu mempersembahkan piala dan hadiah-hadiahnya untuk Lena. (Hirata, 2015:118)
d. Berjiwa kebapakan
Bukti: “Ayah di dalam dirinya melonjak-lonjak, tak sabar ingin memperlihatkan diri pada dunia. (Hirata, 2015:183)
“Sabari senang meski dia sedih karena begitu miskin sehingga tak dapat membelikan Zorro makanan di dalam daftar menu itu. Dalam hati dia berjanji suatu hari nanti akan membelikan anaknya makanan-makanan itu. (Hirata, 2015:226)
d). Teknik Reaksi Tokoh Lain
a. Mau Mengakui Kesalahan
Bukti: "Ukun menyarankan agar Sabari minta maaf kepada Lena dan Bogel secara terbuka... Sabari menjadi yakin, ditambah lagi pengalaman kesukaan Toharun." (Hirata, 2015, hlm. 96)
b. Berani meminta maaf
Bukti:
Permohonan maaf secara terbuka adalah sikap yang gentleman. Bahwa kau tak bisa bernyanyi, semua orang tahu itu....betapa tulus dan manisnya. Pasti Lena terkesan! Tamat meyakinkan.
Demi mendengar kata Lena terkesan, membawakan lagu yang biasa dibawakan Luciano Pavarotti sekalipun Sabari siap." (Hirata, 2015:84)
2) Marlena binti Markoni
A. Secara Ekspositori
a) Ekspositori
a. Tangkas
Bukti: "Tangkas sekali anak itu memindahkan semua jawaban Sabari ke kertas jawabannya sendiri...." (Hirata, 2015:12)
b. Jiwa pemberontak
Bukti: "Namun sial lagi, di balik wajah manis si bungsu itu, tersimpan jiwa pemberontak. Si bungsu telah menunjukkan tanda-tanda berandal sejak SD." (Hirata, 2015:27)
c. Keras
Bukti: "Namun, karena wataknya yang keras, si bungsu seakan menyabotase dirinya sendiri." (Hirata, 2015:28)
d. Tukang sontek
Bukti: "Soal Lena tukang sontek kelas kakap sudah menjadi ra-hasia umum di SMA." (Hirata, 2015:27)
e. Tidak suka ambil pusing
Bukti: Kepribadian Lena yang tak suka ambil pusing membu-atnya mudah saja memutuskan bercerai,... (Hirata, 2015:234)
f. Tidak mudah ditaklukkan
Bukti: "Manikam berusaha membujuk Lena untuk tidak pergi, tetapi Lena bukanlah orang yang gampang ditaklukkan." (Hirata, 2015:243)
B. Secara Dramatik
a) Teknik Cakapan
a. Kasar
Bukti:
"....Sabari mengambil saputangan Lena yang jatuh di lapangan upacara.
“Siapa yang menyuruhmu mengambilnya?! Siapa?! Aku bisa mengambilnya sendiri!” Padahal, Sabari menyerahkannya tak kurang khidmat dari cara Paskibra Kabupaten menyerahkan bendera." (Hirata, 2015:2)
b. Acuh
Bukti: Apa peduliku!? Dia mau jadi juara maraton, mau jadi juara menulis indah, tak ada urusan denganku! (Hirata, 2015:119)
3) Amiru
A. Secara Ekspositori
a) Ekspositori
a. Rajin
Bukti: "Amiru kagum akan rasa sayang, kesabaran, dan ketelatenan ayahnya merawat ibunya. Oleh karena itu, dia, selaku anak tertua, juga selalu rajin merawat ibunya." (Hirata, 2015:14)
b. Cerdas
Bukti: "Dia adalah murid yang cerdas. Nilai IPA di rapornya tak kurang dari 8,5." (Hirata, 2015:24)
c. Mudah menyesuaikan diri
Bukti: "....Zorro gampang menyesuaikan diri dan selalu disukai kawan-kawan dan guru-gurunya." (Hirata, 2015:272)
B. Secara Dramatik
b) Teknik Tingkah Laku
a. Tekad yang kuat
Bukti: "Amiru belajar dengan tekun. Dia mau segera masuk SMP. Dia bertekad untuk meng-hadapi Syarif Miskin lagi." (Hirata, 2015:47)
b. Ulet
Bukti: Amiru bekerja dengan kecepatan yang membuat juragannya tercengang. (Hirata, 2015:130)
c. Ramah
Bukti: Sepanjang jalan mulut Zorro tak berhenti berkicau. Dia melambai kepada siapa saja dan apa saja. Alo, alo sapanya. (Hirata, 2015:221)
c) Pikiran dan Perasaan
a. Peduli kepada orang lain
Bukti: "...melalui celah dinding papan, Amiru sering mengintip ayahnya. Senang dia melihat ayahnya terse-nyum mendengar lagu-lagu yang indah. Tak ada yang lebih diinginkan Amiru selain melihat ayahnya tersenyum." (Hirata, 2015:7)
b. Rasa ingin tahu
Bukti: "Didorong perasaan ingin tahu, dan minat belajar yang selalu tinggi, jauh-jauh dia bersepeda ke perpustakaan daerah untuk membaca buku-buku soal radio." (Hirata, 2015:45)
c. Pantang menyerah
Bukti: “Amiru tak mau menyerah demi ayah dan ibunya. (Hirata, 2015:129)
4) Ukun/Maulana Hasan Magribi
A. Secara Dramatik
a) Teknik Tingkah Laku
a. Jahil
Bukti: "Karena tahu Sabari anti cinta, pernah Ukun menggo-danya dengan memasang-masangkannya dengan Shasya. Sabari muntab tak keruan. Tiga hari Ukun didiamkannya. Sabari yang penyabar, tak pernah begitu sebelumnya." (Hirata, 2015:11)
b. Perhatian
Bukti:
"Sabari tersenyum pahit. Ukun menjadi iba.
Usahlah kau risaukan, Boi, bujuknya." (Hirata, 2015:68)
c. Hormat kepada orang tua
Bukti: "...Ukun mencium tangan Bu Norma dengan takzim." (Hirata, 2015:297)
5) Muktamar Kalimat/Tamat
A. Secara Dramatik
a) Teknik Cakapan
a. Suka membolos
Bukti: Kau, Mat! Susah payah ayahmu menghidupi tiga istri, kau sangka gampang?! Seenaknya saja kau bolos. Durhaka! Tamat menyesal." (Hirata, 2015:70)
b. Setiakawan
Bukti: "...Sudah saatnya kita berbuat sesuatu yang spektakuler untuk Sabari,” kata Tamat kepada Ukun." (Hirata, 2015:286)
c) Teknik Pikiran dan Perasaan
a. Setiakawan
Bukti: "Ukun, Tamat, dan Toharun bermuram durja. Pedih mereka membayangkan tak ada Sabari di sekolah. Mereka merasa timpang. Tanpa Sabari mereka merasa tak lengkap." (Hirata, 2015:70)
b. Cerdas
Bukti: "Komunikasi dianggap penting oleh Tamat sebab nanti mere-ka akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai daerah. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa Indonesia Ukun harus ditingkatkan." (Hirata, 2015:295
Daftar Pustaka
Hirata, Andrea. 2015. Ayah. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
NDE/2019