Rabu, 05 September 2018

Sinopsis : Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono


Kerinduan yang Menjelma Menjadi Hujan


Judul Buku            : Hujan Bulan Juni
Jenis Buku             : Novel/Fiksi
Penulis                   : Sapardi Djoko Damono
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit         : Juni 2015
Jumlah Halaman  : 144 halaman

Sinopsis
        Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono—yang biasa dijuluki SDD—yang menurut saya selalu berhasil memberi rasa dari setiap puisi karangannya.
       Novel ini telah begitu larisnya sehingga setiap tahunnya ada cetakan terbaru. Sejak 2015 sampai 2017 sudah sampai pada cetakan kedua belas. Karya-karya Sapardi Djoko Damono yang terkesan sederhana namun terasa dan nampak indah bila dibaca dan jika kita mengerti maknanya.
Penyair sekaligus sastrawan besar Indonesia yang puisi romantiknya biasa tercetak di surat undangan nan sakral, dan kartu ucapan pada kado antar kekasih. Sedikitnya saya sebut satu puisinya berjudul “Aku Ingin” . Saya kutipkan larik lengkapnya yang hanya berisi dua bait saja, yaitu: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Sederhana tapi ‘ngena’ . Namun, terlepas dari karya puisi penyair yang sering (baca: sebagian besar) menyelipkan kata ‘hujan’ dalam puisi-puisinya, kali ini saya akan sedikitnya menuliskan review untuk karya teranyarnya. Tak hanya puisi, Hujan Bulan Juni ini juga dijadikan komik,dan yang lebih hebatnya lagi akan muncul dalam bentuk film. Hujan Bulan Juni menjelma sebagai novel. Sebuah novel yang judulnya sama persis dengan puisi fenomenalnya yang diterbitkan pertama kali oleh Grasindo di tahun 1994 dan berhasil melambungkan namanya serta disejajarkan bersama Pujangga/Penyair besar Indonesia lainnya.
       Berkisah tentang hubungan percintaan antara Pria sederhana dan kaku bernama Sarwono dengan gadis, yang kalau boleh saya kategorikan seperti syarat untuk menjadi Miss Universe: Brain, Beauty dan , Behavior. Dapat dilihat juga bahwa tokoh Sarwono terlalu banyak mengalami berkecamuknya pikiran tentang kekhawatiran hubungannya dengan gadis itu. Dialah Pingkan. Perempuan yang berdarah blasteran dari dua suku: Jawa (Solo) dan Minahasa (Menado). Toar adalah Kakak Pingkan sekaligus sahabat Sarwono. Dan dari sana kisah cinta mereka bermula.
Sarwono seorang Antropolog. Ia tengah disibukkan dengan pekerjaannya sebagai peneliti—ia mendapatkan tugas tersebut dari dosen seniornya. Singkatnya kemudian, mereka, Pingkan dan Sarwono, karena sering bertemu maka keduanya saling jatuh cinta, meski dibenturkan oleh sebuah kendala; berbeda agama. Uniknya, cinta mereka dibumbui dengan obrolan yang remeh-temeh setiap kali sedang jalan bersama. Tetapi, justru sebab obrolan mereka itulah yang membuat keromantisan di antara keduanya semakin terbangun.
       Di bab awal, Sarwono dibuat gembira, sebab, tiga puisinya dimuat sebuah koran bernama Swara Keyakinan— (Hal.02). Sayangnya, tanggapan Pingkan setelah mengetahui itu biasa saja. Ia berkata bahwa: “ Puisimu kisruh (hal.25)” dan cengeng, ketika membaca sajak Sarwono selain dari yang dimuat hari itu. Sarwono belum sempat melihatkan kepadanya, dan ia tahu, mungkin Pingkan tidak akan terlalu merespons. Tetapi, meski begitu, gadis berkulit putih itu tetap menaruh perhatian pada Sarwono. Malah ia pernah juga merasa kasihan ketika Sarwono yang bertubuh kerempeng itu terbatuk-batuk. Walau Sarwono berdalih, “tapi kan sehat. (hal.35)” dan pingkan membalasnya, “Sehat apa? Suka ngrokok dan batuk-batuk kok sehat! (hal.35)” begitu cara ia menunjukkan rasa sayangnya kepada Pria jawa yang dicintainya. Sebab, ia tahu, “ Sarwono pernah gagal melanjutkan studi ke Amerika gara-gara ada flek yang mencurigakan di paru-parunya (hal.28) ”.
       Sayangnya, Pingkan harus melanjutkan studinya di Jepang. Ia dikirim dari kampusnya dan mengikuti perintah Prodinya. Sarwono dibuat semakin galau ketika tahu itu. Lebih-lebih ia pernah mendengar, kalau pria Jepang bernama Katsuo yang pernah berkunjung ke Indonesia dan bertemu (baca: pernah dekat) dengan Pingkan, telah lulus program pascasarjana dan menjadi dosen di Universitas Kyoto yang tak lain kampus yang nanti menjadi tempat Pingkan menuntut ilmu—(hal.64). 
       Suatu ketika mereka merencanakan sebuah pernikahan sebelum Pingkan pergi ke Jepang, namun saying rencana pernikahan itu harus terhambat karena Sarwono terkena paru-paru basah akibat kebiasaannya merokok.
       Di akhir bab, Sarwono jatuh sakit dan cairan dalam paru-parunya disedot—(hal.129). Ia menderita paru-paru basah. Ditambah benak dan hatinya yang basah sebab lama menahan rindunya ingin bertemu sang kekasih.

Kelebihan
      Novel ini memberi pembaca pengetahuan mengenai kebudayaan Minahasa dan Solo melalui tokoh Pingkan dan Sarwono. Dan bicara sampul, saya sangat jatuh cinta. Terkesan sederhana namun elegan, ditambah rintik hujan yang membuat judul itu tampak pudar dan asli.         Implementasi dari makna tulisannya sendiri. Ditambah lagi sedikit informasi mengenai kehidupan dan hiruk pikuk yang terjadi di lingkungan universitas.
     Di umur Sapardi yang sudah 77 tahun dan saat terbitnya novel Hujan Bulan Juni (75 tahun) tidak menjadikan novel ini menjadi novel yang ketinggalam zaman atau minim teknologi. Novel yang menyelipkan penggunaan hasil dari teknologi masa kini ke dalam ceritanya, membuatnya terkesan tidak “zadul”. Disebutnya aplikasi WA berulang kali . Ternyata ada WA dari Pingkan: ada gambarnya sedang nyengir di kereta. Di kamar, Sarwono membalas WA itu dengan selfie yang merekam tampang wajahnya serius. Pingkan menjawab, Garing banget, Sar. (Sapardi 2015 : 90).

Kelemahan
       Gaya Bahasa yang digunakan penulis dalam novel ini kurang bisa dipahami secara langsung. Selain itu, perdebatan dan perbincangan yang menyatakan kalau Pingkan lebih senang disebut Jawa tinimbang Menado atau sebaliknya. Bukan terhadap isi dari narasi tersebut yang saya permasalahkan, tetapi lebih ke pengulangan-pengulangan yang beberapa kali bermunculan di lembar-lembar berikutnya dan sepertinya hanya pemborosan kalimat saja dan kurang menunjang jalannya cerita. Terlepas siapa yang memperbincangkan itu; Ibu, Kakak, Sarwono atau Pingkan sendiri. Cerita yang disampaikan di bab satu dirasa tidak dikembangkan. Bahkan seringkali setting dan alur yang satu melompati alur dan setting lainnya. Ditambah lagi dalam penulisan kalimat majemuk panjang yang tidak diselingi tanda baca koma. Hal ini pasti merumitkan pikiran untuk dapat secara mudah memahami maksud kalimat tersebut. Namun tentang pemahaman bacaan oleh pembaca tak layak pula jika diabaikan.

www.uny.ac.id
library.uny.ac.id/sirkulasi/index.php?p=show_detail&id=55499&keywords=Hujan+Bulan+Juni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar